Alice in Wonderland

sobekan tiket bioskop tertanggal 10 Maret 2010 adalah Alice in Wonderland. film ini memang menjadi salah satu film yang paling gue tunggu-tunggu di tahun ini. rasanya udah kangen aja melihat karya terbaru Tim Burton, apalagi seperti biasa, ditemani duo Johnny Depp dan Helena Bonham-Carter. dan tampaknya akan menarik bagaimana Burton menceritakan kembali dongeng klasik tentang Alice yang terjerumus ke dalam lubang kelinci.

Pada sebuah pesta mewah di puri Victorian, Alice Kingsley jatuh ke lubang kelinci di dalam Wonderland, tempat yang sepertinya pernah ia kunjungi sepuluh tahun sebelumnya. Di Wonderland, ia bertemu dengan teman-teman masa kecilnya; termasuk Mad Hatter, yang menjelaskan kepada Alice bahwa mereka membutuhkan bantuannya untuk menggulingkan Ratu Merah, yang telah memegang kendali penuh atas Wonderland dan segala isinya. Alice kemudian menjalani sebuah petualangan yang tak hanya untuk menemukan jati dirinya tapi juga untuk menyelamatkan Wonderland baik dari Jabberwocky dan Ratu Merah si penebar teror.

kesan pertama gue, engga nyangka ternyata film ini full CGI. mungkin secara engga sengaja, memori kita akan membandingkan dunia Wonderland dengan dunia Pandora. tapi tetep, dunia Wonderland beserta segala isinya ini lebih "bercanda". bagi pada pecinta CGI, dijamin pasti suka karena efek visualnya yang memang oke berat.

tampaknya Burton sedikit kesulitan untuk mengeksplor kegelapan dari cerita ini. seakan-akan dia terkukung oleh keceriaan dan warna-warni dunia Wonderland, entah hal tersebut terjadi karena pengaruh Disney atau bukan. dengan cerita yang sebenarnya simpel, Burton seakan memaksakan atmosfir gelapnya pada scoring Danny Elfman, yang menurut gue agak kurang pas dengan adegannya. memang sih Burton pernah membuat film yang ceria dan penuh warna-warni seperti Charlie and the Chocolate Factory atau Big Fish. tapi entah kenapa dalam film Alice ini, paduan cerita klasik dan sentuhan Burton rasanya agak kurang pas pada atmosfir ceritanya. seakan Burton kurang bisa lepas berekspresi dalam cerita yang bukan ditulisnya sendiri.
beruntung masih ada Depp dan Bonham-Carter yang menyelamatkan film ini. jujur gue lebih suka akting Bonham-Carter pada film ini dibandingkan aktor lainnya. seakan kegilaan Bonham-Carter tereksplor dengan baik untuk memerankan seorang Red Queen yang childish, egois, dan sombong. apalagi ditambah dengan atmosfir Wonderland dan dikelilingi oleh karakter-karakter yang nyeleneh juga (kodok, babi, monyet-monyet). tentang Depp, menurut gue ini bukan akting terbaiknya. menjadi seorang Mad Hatter yang sebenarnya seorang yang ceria dan cukup gokil namun mengalami pengalaman sakit hati karena tindakan Red Queen. Depp seakan terkukung dalam karakter yang sebenarnya bisa tampil lepas namun tetap ada perasaan ingin membalas dendam pada Red Queen.
gue cukup kagum akan visualisasi dari film ini. sepertinya ini satu-satunya ciri khas Burton yang tampil sangat menonjol dalam dunia Wonderland ini. mulai dari kostum-kostum nyentrik yang menghiasi setiap karakternya, sampai pada penampilan para karakternya sendiri yang sangat menarik, mulai dari para pelayan Red Queen, para kelinci, Red Knights, Tweedledee/Tweedledum, sampai pada set yang cukup mengagumkan.
overall, bagi para penggemar Burton dan/atau Depp dan/atau Bonham-Carter, film ini cukup patut ditonton untuk melepas kerinduan akan hadirnya mereka di dunia perfilman. untuk pecinta 3D, jangan menaruh ekspektasi berlebih. saran gue, untuk menghemat pengeluaran, lebih baik nonton yang 2D saja.

rating?
7,5 of 10

Komentar